Pada perayaan Idulfitri 2025, Pemimpin Revolusi Islam, Imam Sayyid Ali Khamenei, menyampaikan pidato penting di hadapan para pejabat tinggi Republik Islam Iran dan para duta besar negara-negara Muslim. Dalam pidatonya yang berlangsung di Husainiyah Imam Khomeini, Rahbar menyoroti pentingnya Idulfitri sebagai momen pemersatu umat Islam dan momentum untuk memperkuat martabat Islam.
Idulfitri: Titik Pemersatu dan Kehormatan bagi Umat Islam
Rahbar membuka pidatonya dengan menyampaikan ucapan selamat Idulfitri kepada seluruh umat Islam, bangsa Iran, dan para tamu kehormatan. Ia menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar hari raya, melainkan juga sumber “kehormatan, kemuliaan, dan peningkatan” bagi Islam dan Rasulullah SAW. Hal ini dapat terwujud jika umat Islam menjalani hari raya ini dengan kekhusyukan, doa, dan kebersamaan.
Menurutnya, makna spiritual Idulfitri bisa menjadi penggerak bagi kebangkitan umat apabila dibarengi dengan persatuan, kesadaran, dan tekad bersama.
Persatuan Dunia Islam: Kunci Menghadapi Tantangan Global
Di tengah pesatnya perubahan dunia dan derasnya arus peristiwa, Rahbar menekankan bahwa negara-negara Muslim harus tanggap, bersikap tepat, dan tidak tertinggal dalam menyikapi perkembangan global. Ia menyerukan kepada seluruh pemerintah negara Islam untuk menyadari potensi besar yang dimiliki umat: populasi yang besar, letak geografis yang strategis, dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah.
Namun, untuk memaksimalkan semua potensi itu, dibutuhkan satu syarat mendasar: persatuan. Rahbar menjelaskan bahwa persatuan bukan berarti meleburkan semua negara menjadi satu sistem politik yang sama, melainkan membangun kesadaran akan kepentingan bersama dan menjauhi konflik internal yang merugikan umat.
Solidaritas terhadap Palestina dan Penolakan terhadap Pemerasan Global
Rahbar menyoroti penderitaan bangsa Palestina dan Lebanon sebagai luka mendalam di tubuh dunia Islam. Ia mengecam keras kejahatan genosida yang dilakukan oleh rezim Zionis yang telah menyebabkan syahidnya sekitar 20.000 anak dalam waktu kurang dari dua tahun. Menurutnya, ini adalah tragedi kemanusiaan yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern.
Dalam konteks ini, Rahbar mengajak umat Islam untuk tidak diam, tidak menyerah, dan tidak membiarkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan sekutunya terus memeras dan melemahkan negara-negara Muslim.
Ia menegaskan bahwa jika dunia Islam bersatu dan menunjukkan solidaritas, bahkan tanpa perang atau konflik bersenjata, kekuatan-kekuatan arogansi global akan dipaksa untuk meninjau ulang kebijakan mereka.
Penutup: Harapan untuk Bangkitnya Umat
Di akhir pidatonya, Rahbar berdoa agar Idulfitri ini menjadi berkah bagi seluruh umat Islam dan menjadi awal dari semangat baru bagi para pemimpin negara-negara Muslim untuk membangun “umat Islam sejati” — umat yang bersatu, sadar, dan mandiri.